http://www.blogger.com/html?blogID=6428500706244982035

Kamis, 08 Maret 2012

Curhatan Malam Hari

STUPID!
Aku nggak mungkin sesakit ini kalo dari dulu melepasnya..
Kata-kata di FTV ~well, cuma iseng nonton karena nggak ada kerjaan~ pagi tadi emang ada benernya.
"Dia udah terkunci di otak gue. Dan gue nggak bisa menghilangkan dia dari pikiran gue, karena nggak tahu kuncinya dimana!"
Cuplikan perkataan itu buat aku sadar, apa begitukah aku memperlakukanmu?
Haha, perlu tertawa sebentar lalu mendesah pelan..
Yang jadi pertanyaanku, apakah cinta itu tersimpan di otak?
Bukan di dalam hati?
Bah, siapa aku yang sampai pusing-pusing memikirkan hal itu.
Memikirkan dia saja udah buat kepala cenat-cenut.
Dan yang buat aku sampai sesakit ini adalah..
Sebenarnya bukan perkara yang sulit, tapi entah kenapa buat dada ini sesak bernapas.
Dia. Yang notabene cowok yang aku cinta *tidak dilarang tertawa* belum pasti tahu perasaanku ini.
Ya, walaupun sudah lebih dari tiga tahun aku memendam rasa ini. Tuingg.. otakku langsung memutar lagu Vierra Rasa Ini..
Stop! Nggak ada hubungan dengan lagu itu sebenarnya. Lebih cucook lagu Seandainya, mungkin :'/
Ok, kembali..
Aku bukan cewek yang ngebet sampai harus "nembak" duluan. APA KATA DUNIA?!
Walaupun abad ini lagi ngtrend tentang emansipasi wanita, tapi helloo.. pernah kenal kata MALU dan HARGA DIRI?
Aku pernah, dan itu sangat mengerikan kalo sampai dilanggar.
Flashback, aku jadi inget wanti-wanti guruku tentang... cewek.
"Jangan sekali-kali cewek mengatakan cinta ke cowok. Itu hal yang tabu!"
Bahkan, guruku saja sudah mewanti-wanti seperti itu. Nggak boleh dilanggar lah, guru kan digugu lan ditiru :D
Oke, jadi aku harus menunggu oo menanti tepatnya ~karena kata Bapakku menunggu dan menanti punya arti yang berbeda~ sampai dia kembali dan mengutarakan perasaannya kepadaku.
Bah, aku sudah sangat PD saat ini..
Kalaupun dia kembali dan tidak melakukan itu, aku baru akan menyadari satu hal. Bahwa tiga tahun itu sia-sia. Dan aku akan mengerti makna tidak dan belum.
Kenapa harus menunggu sampai dia kembali?
Apa loe sangat bodoh, sampai harus menunggu tiga tahun untuk menanti jawaban tidak? Ya, mungkin itu aku..
Tidak dan Belum...
Bahkan aku belum tahu jawaban mana yang akan aku dapat.
Makanya, aku harus menunggu dia kembali.
Jangan salahkan aku jika aku melakukan hal itu. Karena itu nyaman untukku, keluar dari kenyataan apa itu salah atau benar. Aku nggak mau tahu!
Aku sempat mengutuk orang-orang di luar sana, mengapa mereka begitu mudahnya menjalani kehidupan cinta mereka? Apa mereka tidak tahu, aku masih berdiam menanti cinta tiga tahun yang nggak kunjung datang!
Sebenarnya bukan salah mereka, aku saja yang belum bisa bergerak maju. Atau mungkin tidak..

Ya, seenggaknya kalau tidak ada dia, aku nggak mungkin merasakan warna-warni cinta. Walaupun harus merasakan sakit..

"Trimakasih tuk luka yang kau beri..." perlahan lagu milik Geisha menyerang otakku.
Aku biarkan otakku diserang lagu itu..
Bah, luka yang indah..(ry)

Selasa, 06 Maret 2012

Kerinduan Butuh Ruang untuk Mengenang Bag. 2

Hari itu tidak ada pelajaran, hanya bersih-bersih, aku pergi ke kantor kepala sekolah untuk menanyakan kenapa nama Lena tidak ada. Aku mengetuk pintu ruang kepala sekolah, lalu aku masuk ke dalam. Pak Hendri, sedang sibuk mengurus surat-surat di mejanya.
            “Maaf pak, saya mengganggu sebentar,” kataku sopan.
            “Yaa silahkan, ada apa?” Pak Hendri memandang ke arahku, lalu menyilahkan aku duduk.
             “Saya mau tanya, murid yang bernama Lena Puspita, murid kelas VII D yang sekarang naik ke kelas delapan kok tidak tercantum di papan pengumuman, pak?”
            Pak Hendri membetulkan kacamatanya, “Lena pindah dari SMP ini,”       
Aku tersentak, hampir jatuh dari tempat duduk, tapi segera aku tahan. Aku membetulkan dudukku yang miring, “Kenapa pindah pak?”
            “Maaf Vinda, bapak tidak tahu. Kamu bisa menghubungi Lena kan, dengan HP atau telepon?” kata pak Hendri memberi pendapat. Aku mengangguk, “Terimakasih pak, kalau begitu saya permisi dulu,” Aku keluar kantor kepala sekolah dengan lemas, sangat lemas. Aku kembali ke kelas yang baru dengan langkah gontai. Kulihat keadaan kelas sudah mendingan, lebih bersih.
            Hari itu pulang pagi, aku mengambil tas dan berjalan keluar sekolah untuk mencari angkot. Sampai di rumah, aku menjatuhkan diri di kasur dan menangis sederas-derasnya bukan sekencang-kencangnya. Kenapa sih Lena harus pindah? Padahal aku sayang banget sama Lena. Pasti kalian pikir aku orang bodoh, nangis-nangis hanya karena sahabat. Mungkin kalian kira aku bego’ bercerita tentang sahabat sejati bukan cerita tentang percintaan yang romantis, mengesankan, piuuh!!. Tapi kalau kalian merasakan apa yang aku rasakan pasti kalian akan nangis... sama seperti aku, mungkin lebih parah.
            Aku jadi menyesal, kenapa aku nggak minta nomer HP atau telepon Lena…padahal sudah setahun aku bersamanya, uuuh aku jadi menyalahkan diri sendiri.  Untung saja aku sudah tahu alamatnya, tapi setiap aku ingin mengirim surat aku jadi ragu. Bantal tempatku bertumpu basah, tapi aku tak peduli, kalau rumahku banjir karena air mataku  Selama satu minggu aku melakukan hal yang sama, menangis dan berdiam diri di kamar.
            Saat istirahat pertama, aku duduk di koridor kelas, hal yang sama yang aku lakukan waktu Lena masih sekolah di sini. Rere teman sebangkuku, yang juga teman SD dulu menghampiriku, “Agustina, mau ikutan nggak?” kata Rere duduk di sebelahku.
            “Emang ikutan apaan?”
            “Ikutan olimpiade matematika tingkat kabupaten, kalau menang ke Semarang lhoo, daftarnya di perpustakaan” sahut Rere.
“Kalau aku bisa menang dan ke Semarang, aku bisa bertemu Lena,” fikirku. Aku segera berlari menuju perpustakaan, meninggalkan Rere sendirian.
            Sampai di perpustakan, aku segera menghampiri Bu Wati. “Maaf Bu, saya mau ikut lomba Olimpiade matematika,” kataku akhirnya. Bu Wati mengangkat kepalanya, “Vinda, silahkan isi formulirnya dan seleksinya besok hari Selasa.” Kata Bu Wati mengakhiri pembicaraan, aku mengambil formulir dan langsung mengisinya, semoga aku bisa lolos seleksi.
            Aku dan anak lain yang ikut seleksi absen pelajaran jam keempat dan lima, sekitar lima puluh anak masuk ke dalam ruang keterampilan, laki-laki dan perempuan.  Di sana sudah berjejer rapi meja dan bangku, aku segera duduk di bangku deretan paling depan. Soal dibagikan, aku langsung menyerbu soal-soal di kertas, satu demi satu aku kerjakan sampai tuntas, walau ada beberapa soal yang aku ragukan. Aku melihat jam tanganku, aku menyelesaikan soal dalam waktu satu jam sepuluh menit. Aku menyerahkan lembar jawaban kepada Bu Suci, guru biologi.
             Aku melangkahkan kaki menuju kelas, masih ada waktu sepuluh menit lagi untuk mengikuti pelajaran fisika. Dan setelah pelajaran itu dilanjutkan pelajaran kesenian oleh Pak Candra. Pikiranku tidak bisa menyatu dengan materi fisika yang disampaikan, aku masih memikirkan apakah aku lolos untuk mengikuti lomba olimpiade matematika. Dan apakah aku bisa menjuarai lomba dan pergi ke Semarang, bertemu Lena..??   
            Di rumah aku berkutat di depan meja belajar dengan setumpuk buku paket matematika yang tadi aku pinjam, walau aku belum tahu siapa yang akan ditunjuk sebagai perwakilan dari SMP tercinta ini. Kubuka halaman demi halaman buku, menghafal rumus-rumus matematika, dan mengerjakan soal-soal di selembar kertas.
            Aku berlari melewati koridor-koridor kelas, sampai di perpustakaan aku melihat pengumuman. Aku mencari namaku di papan pengumuman, tapi…huuh aku langsung tertunduk, aku tidak lolos seleksi…aku dapat peringkat dua setelah Mia Sartika. Mungkin memang belum saatnya aku ikut olimpiade matematika. Impian besarku hanya bisa kupendam, entah sampai kapan. Lena, kapan kita bertemu…? Kenapa kamu pergi…!!!.(ry)

Jumat, 02 Maret 2012

Dunia Sempit Banget!

            Hatinya sedang berbunga-bunga, hatinya sedang mengepul di udara, eehm maksudnya hatinya sedang melayang-layang di angkasa. Siapa coba? Itu aku, yaap, aku sedang merasakan jatuh cinta sama seorang cowok yang eeem…. jangan ditanya, pokoknya cakep, hidung mancung, matanya hitam bulat, senyumnya manis banget, aah pokoknya perfect.
            Apalagi ia sekelas sama aku, haaah… dunia emang sempit, aku bisa ketemu sama cowok baru yang cool abis. Emang orang itu nggak punya pendirian ya, kadang-kadang ngomong kalau dunia itu sempit banget kadang juga ngomong dunia itu luas sekaleee. Tapi ya nggak pa-pa lah, namanya juga manusia, nggak pernah luput dari dosa (sok berfilosofi..).
            “Loz…gue mau nanya doong…!!” teriak  Gita sambil menubruk tubuhku dari belakang kursi.
            “Heeh, ada apa?”
            “Entar, gue atur nafas dulu…. Huhh huh, loe gue cariin eh malah di sini, eeh anuu nama cowok baru di kelas loe siapa sih?”
            “Ohh, namanya Jono…” jawabku asal-asalan.
Gita langsung menggoncang tubuhku, yang jelas aku tergoncang, mengingat badanku setengah darinya.
            “Bohong….!! Kasih tahu yang asli dong….”
            “Iyaaa…iya, lepasin dulu…..” pintaku dengan sangat mengiba. Gita langsung melepaskan kedua tangannya dari tubuhku.
            “Namanya Rehan Saputra,”
            “Wuiiih, nama yang kuuereen…!!” teriak Gita dengan keras. Aku cepat-cepat membungkam mulutnya, “Shuuut….kita lagi di perpus, nanti kita bisa dimarahi sama anak-anak yang lain,”
            “Lagian loe norak banget, nama kayak gitu aja geger, emang kenapa sihhh…” lanjutku dengan ingin tahu.
            “Masa loe nggak tahu, gue naksir berat sama dia.…bahkan semua cewek di kelas gue, Ririn, Ajeng, Agnes, Meisya…. bla…bla…..” cerocos Gita.
            “Git, Ta... stop….!! Loe nggak bohong kan?”
            “Ya enggak lah, loe nggak nyadar….??”
Aku menggeleng lemah, kenapa jadi kayak gini sihhh…..
            “Rehan kan cakep, macho, manis, bla..bla…bla…”
Aku beranjak dari kursi dan ninggalin Gita yang lagi ngoceh kayak burung beo.
            “Eeh, Aloza mau ke mana, loe…?”
Aku melambaikan tangan tanpa menoleh ke arah Gita, CUEK BEBEK……
# # # #

            Waw surprise!!! Sepupuku dari luar kota datang…. Langsung aku serbu dia dengan seribu pertanyaan.
            “Mel, loe tahu nggak?”
            “Nggak… kan loe nggak ngasih tahu,” kata Amel nggak tertarik sama omonganku.
            “Hari ini gue seneng banget, gue punya temen cowok baru yang kereen abiss, dia masuk kriteria gue bangeet, dan gue yakin, gue pasti bia ngedapetin dia!!” kataku berapi-api.
            “Trus, apa hubungannya sama gue….” Amel masih belum tertarik, padahal aku usah bersemangat ’45.
            “Loe gimana sih, loe kan pernah janji sama gue!!!” aku mulai jengkel.
            “Oooh yang mana yaaa…gue mulai pikun?!!”
Aku menepuk dahi, “Aduh, kenapa sih loe…?”
            “Gue lagi bete’ banget, gue habis putus sama cowok gue,” curhat Amel.
            “Siapa, Putra itu ya??”
            “Heem, gue yang mutusin dia.”         
            “Kapan putus?”
            “Dua minggu yang lalu.”
            “Kenapa?”
            “Tahu nggak, ternyata Putra itu punya kelainan, dia itu cowok klepto. Katanya sih dia juga mau pindah sekolah ke luar kota… ”
            “Buat apa?”
            “Mana gue tahu, gue udah ilfil banget sama dia, ganteng, keren, tapi klepto…”
            “Ya udahlah, hari ini gue malah seneng banget.... seminggu yang lalu ada cowok baru di kelasku, iihhh bikin gue gemes…. cakep banget!!!”
            “Gue nggak peduli. Eh, emang gue pernah janji apaan sama loe….”
            “Sana diingat-ingat dulu…..”
Amel terlihat berpikir keras, “Oh iya, gue pernah janji kalau loe bisa dapat cowok cakep, gue harus pacaran sama tukang kebun loe,”
            “Pinteer…” kataku lalu tertawa keras.
            “Eh tapi nggak pasti loe jadian sama dia” Amel membela diri.
Aku mencibir, “Siapa bilang? Gue pasti bisa jadian sama dia!!!”

# # # #

            “Loz, tunggu!!!” teriak seseorang sari belakang, dan seseorang itu Rehaaan, ooh no…
            “Kok malah  diem mematung, gue cuma mau nanya kamus Bahasa Jerman punya Rasti ada di kamu?”
            “Eh iya, tapi aku tinggal di rumah tuhh, soalnya kemarin buat ngerjain tugas,” jawabku dengan deg-degan.
            “Kalau gitu, aku boleh nggak ke rumah kamu sepulang sekolah, buat ngambil tuh kamus, soalnya aku belum ngerjain. Aku kasih boncengan deh?” pinta Rehan. Aku hanya mengangguk, Rehan ngomong thanks lalu melangkah pergi. Makasih Tuhan….
            Nggak nyangka, sekarang aku berada di boncengan sepeda motornya Rehan. Terciuam aroma parfum Rehan, sumpaaah wangi banget!! Nggak kayak aroma badan cowok-cowok lain, hiii apeek banget…. rasanya ingin terus berada di boncengannya, dan menghirup aroma parfumnya. Berjam-jam nggak masalah, tapi kalau seminggu nggak jamin dech!!!
            Sampai di depan pagar rumahku, Rehan menyenggol pundakku, aduh malunya…. ternyata aku melamun dengan posisi tangan melingkar di pinggangnya. Aku langsung melepaskan tanganku, dan turun dari sepeda motornya.
            “Ehm, Re masuk dulu yuk…” kataku membuka pagar dan masuk ke dalam rumah, Rehan berjalan di belakangku.
            “Eh, Mel, lagi ngapain?” tanyaku ketika melihat Amel sedang duduk di teras sambil asyik membaca majalah remaja.    
            “Baca majalah, tadi baru aja dateng….” kata Amel sambil menutup majalahnya, “Lhoo Putra, kok di sini?”
            “Rehan maksud loe??” tanyaku terkejut. Amel mengangguk dan berkata, “Iya mantan gue yang pernah gue ceritain sama loe, yang itu lho…” kata Amel mengeraskan volume suara saat berkata ‘itu lho’
            “Whaat….!!!” aku berteriak tak percaya, Rehan mantan Amel, dan Rehan berarti cowok kleptomania. Tidaaak….
            Tiba-tiba pandanganku kabur, semua kelihatan berputar-putar, suara terdengar bising, dan dengan perlahan aku terjatuh ke lantai.   
            “Aloza, kenapa loe….??” terdengar suara Amel dan Rehan Saputra remang-remang.
            Aaah… Dunia emang sempit bangeeet….!!!!.(ry)