http://www.blogger.com/html?blogID=6428500706244982035

Selasa, 06 Maret 2012

Kerinduan Butuh Ruang untuk Mengenang Bag. 2

Hari itu tidak ada pelajaran, hanya bersih-bersih, aku pergi ke kantor kepala sekolah untuk menanyakan kenapa nama Lena tidak ada. Aku mengetuk pintu ruang kepala sekolah, lalu aku masuk ke dalam. Pak Hendri, sedang sibuk mengurus surat-surat di mejanya.
            “Maaf pak, saya mengganggu sebentar,” kataku sopan.
            “Yaa silahkan, ada apa?” Pak Hendri memandang ke arahku, lalu menyilahkan aku duduk.
             “Saya mau tanya, murid yang bernama Lena Puspita, murid kelas VII D yang sekarang naik ke kelas delapan kok tidak tercantum di papan pengumuman, pak?”
            Pak Hendri membetulkan kacamatanya, “Lena pindah dari SMP ini,”       
Aku tersentak, hampir jatuh dari tempat duduk, tapi segera aku tahan. Aku membetulkan dudukku yang miring, “Kenapa pindah pak?”
            “Maaf Vinda, bapak tidak tahu. Kamu bisa menghubungi Lena kan, dengan HP atau telepon?” kata pak Hendri memberi pendapat. Aku mengangguk, “Terimakasih pak, kalau begitu saya permisi dulu,” Aku keluar kantor kepala sekolah dengan lemas, sangat lemas. Aku kembali ke kelas yang baru dengan langkah gontai. Kulihat keadaan kelas sudah mendingan, lebih bersih.
            Hari itu pulang pagi, aku mengambil tas dan berjalan keluar sekolah untuk mencari angkot. Sampai di rumah, aku menjatuhkan diri di kasur dan menangis sederas-derasnya bukan sekencang-kencangnya. Kenapa sih Lena harus pindah? Padahal aku sayang banget sama Lena. Pasti kalian pikir aku orang bodoh, nangis-nangis hanya karena sahabat. Mungkin kalian kira aku bego’ bercerita tentang sahabat sejati bukan cerita tentang percintaan yang romantis, mengesankan, piuuh!!. Tapi kalau kalian merasakan apa yang aku rasakan pasti kalian akan nangis... sama seperti aku, mungkin lebih parah.
            Aku jadi menyesal, kenapa aku nggak minta nomer HP atau telepon Lena…padahal sudah setahun aku bersamanya, uuuh aku jadi menyalahkan diri sendiri.  Untung saja aku sudah tahu alamatnya, tapi setiap aku ingin mengirim surat aku jadi ragu. Bantal tempatku bertumpu basah, tapi aku tak peduli, kalau rumahku banjir karena air mataku  Selama satu minggu aku melakukan hal yang sama, menangis dan berdiam diri di kamar.
            Saat istirahat pertama, aku duduk di koridor kelas, hal yang sama yang aku lakukan waktu Lena masih sekolah di sini. Rere teman sebangkuku, yang juga teman SD dulu menghampiriku, “Agustina, mau ikutan nggak?” kata Rere duduk di sebelahku.
            “Emang ikutan apaan?”
            “Ikutan olimpiade matematika tingkat kabupaten, kalau menang ke Semarang lhoo, daftarnya di perpustakaan” sahut Rere.
“Kalau aku bisa menang dan ke Semarang, aku bisa bertemu Lena,” fikirku. Aku segera berlari menuju perpustakaan, meninggalkan Rere sendirian.
            Sampai di perpustakan, aku segera menghampiri Bu Wati. “Maaf Bu, saya mau ikut lomba Olimpiade matematika,” kataku akhirnya. Bu Wati mengangkat kepalanya, “Vinda, silahkan isi formulirnya dan seleksinya besok hari Selasa.” Kata Bu Wati mengakhiri pembicaraan, aku mengambil formulir dan langsung mengisinya, semoga aku bisa lolos seleksi.
            Aku dan anak lain yang ikut seleksi absen pelajaran jam keempat dan lima, sekitar lima puluh anak masuk ke dalam ruang keterampilan, laki-laki dan perempuan.  Di sana sudah berjejer rapi meja dan bangku, aku segera duduk di bangku deretan paling depan. Soal dibagikan, aku langsung menyerbu soal-soal di kertas, satu demi satu aku kerjakan sampai tuntas, walau ada beberapa soal yang aku ragukan. Aku melihat jam tanganku, aku menyelesaikan soal dalam waktu satu jam sepuluh menit. Aku menyerahkan lembar jawaban kepada Bu Suci, guru biologi.
             Aku melangkahkan kaki menuju kelas, masih ada waktu sepuluh menit lagi untuk mengikuti pelajaran fisika. Dan setelah pelajaran itu dilanjutkan pelajaran kesenian oleh Pak Candra. Pikiranku tidak bisa menyatu dengan materi fisika yang disampaikan, aku masih memikirkan apakah aku lolos untuk mengikuti lomba olimpiade matematika. Dan apakah aku bisa menjuarai lomba dan pergi ke Semarang, bertemu Lena..??   
            Di rumah aku berkutat di depan meja belajar dengan setumpuk buku paket matematika yang tadi aku pinjam, walau aku belum tahu siapa yang akan ditunjuk sebagai perwakilan dari SMP tercinta ini. Kubuka halaman demi halaman buku, menghafal rumus-rumus matematika, dan mengerjakan soal-soal di selembar kertas.
            Aku berlari melewati koridor-koridor kelas, sampai di perpustakaan aku melihat pengumuman. Aku mencari namaku di papan pengumuman, tapi…huuh aku langsung tertunduk, aku tidak lolos seleksi…aku dapat peringkat dua setelah Mia Sartika. Mungkin memang belum saatnya aku ikut olimpiade matematika. Impian besarku hanya bisa kupendam, entah sampai kapan. Lena, kapan kita bertemu…? Kenapa kamu pergi…!!!.(ry)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar