Hatinya sedang berbunga-bunga, hatinya sedang mengepul di udara, eehm maksudnya hatinya sedang melayang-layang di angkasa. Siapa coba? Itu aku, yaap, aku sedang merasakan jatuh cinta sama seorang cowok yang eeem…. jangan ditanya, pokoknya cakep, hidung mancung, matanya hitam bulat, senyumnya manis banget, aah pokoknya perfect.
Apalagi ia sekelas sama aku, haaah… dunia emang sempit, aku bisa ketemu sama cowok baru yang cool abis. Emang orang itu nggak punya pendirian ya, kadang-kadang ngomong kalau dunia itu sempit banget kadang juga ngomong dunia itu luas sekaleee. Tapi ya nggak pa-pa lah, namanya juga manusia, nggak pernah luput dari dosa (sok berfilosofi..).
“Loz…gue mau nanya doong…!!” teriak Gita sambil menubruk tubuhku dari belakang kursi.
“Heeh, ada apa?”
“Entar, gue atur nafas dulu…. Huhh huh, loe gue cariin eh malah di sini, eeh anuu nama cowok baru di kelas loe siapa sih?”
“Ohh, namanya Jono…” jawabku asal-asalan.
Gita langsung menggoncang tubuhku, yang jelas aku tergoncang, mengingat badanku setengah darinya.
“Bohong….!! Kasih tahu yang asli dong….”
“Iyaaa…iya, lepasin dulu…..” pintaku dengan sangat mengiba. Gita langsung melepaskan kedua tangannya dari tubuhku.
“Namanya Rehan Saputra,”
“Wuiiih, nama yang kuuereen…!!” teriak Gita dengan keras. Aku cepat-cepat membungkam mulutnya, “Shuuut….kita lagi di perpus, nanti kita bisa dimarahi sama anak-anak yang lain,”
“Lagian loe norak banget, nama kayak gitu aja geger, emang kenapa sihhh…” lanjutku dengan ingin tahu.
“Masa loe nggak tahu, gue naksir berat sama dia.…bahkan semua cewek di kelas gue, Ririn, Ajeng, Agnes, Meisya…. bla…bla…..” cerocos Gita.
“Git, Ta... stop….!! Loe nggak bohong kan?”
“Ya enggak lah, loe nggak nyadar….??”
Aku menggeleng lemah, kenapa jadi kayak gini sihhh…..
“Rehan kan cakep, macho, manis, bla..bla…bla…”
Aku beranjak dari kursi dan ninggalin Gita yang lagi ngoceh kayak burung beo.
“Eeh, Aloza mau ke mana, loe…?”
Aku melambaikan tangan tanpa menoleh ke arah Gita, CUEK BEBEK……
# # # #
Waw surprise!!! Sepupuku dari luar kota datang…. Langsung aku serbu dia dengan seribu pertanyaan.
“Mel, loe tahu nggak?”
“Nggak… kan loe nggak ngasih tahu,” kata Amel nggak tertarik sama omonganku.
“Hari ini gue seneng banget, gue punya temen cowok baru yang kereen abiss, dia masuk kriteria gue bangeet, dan gue yakin, gue pasti bia ngedapetin dia!!” kataku berapi-api.
“Trus, apa hubungannya sama gue….” Amel masih belum tertarik, padahal aku usah bersemangat ’45.
“Loe gimana sih, loe kan pernah janji sama gue!!!” aku mulai jengkel.
“Oooh yang mana yaaa…gue mulai pikun?!!”
Aku menepuk dahi, “Aduh, kenapa sih loe…?”
“Gue lagi bete’ banget, gue habis putus sama cowok gue,” curhat Amel.
“Siapa, Putra itu ya??”
“Heem, gue yang mutusin dia.”
“Kapan putus?”
“Dua minggu yang lalu.”
“Kenapa?”
“Tahu nggak, ternyata Putra itu punya kelainan, dia itu cowok klepto. Katanya sih dia juga mau pindah sekolah ke luar kota… ”
“Buat apa?”
“Mana gue tahu, gue udah ilfil banget sama dia, ganteng, keren, tapi klepto…”
“Ya udahlah, hari ini gue malah seneng banget.... seminggu yang lalu ada cowok baru di kelasku, iihhh bikin gue gemes…. cakep banget!!!”
“Gue nggak peduli. Eh, emang gue pernah janji apaan sama loe….”
“Sana diingat-ingat dulu…..”
Amel terlihat berpikir keras, “Oh iya, gue pernah janji kalau loe bisa dapat cowok cakep, gue harus pacaran sama tukang kebun loe,”
“Pinteer…” kataku lalu tertawa keras.
“Eh tapi nggak pasti loe jadian sama dia” Amel membela diri.
Aku mencibir, “Siapa bilang? Gue pasti bisa jadian sama dia!!!”
# # # #
“Loz, tunggu!!!” teriak seseorang sari belakang, dan seseorang itu Rehaaan, ooh no…
“Kok malah diem mematung, gue cuma mau nanya kamus Bahasa Jerman punya Rasti ada di kamu?”
“Eh iya, tapi aku tinggal di rumah tuhh, soalnya kemarin buat ngerjain tugas,” jawabku dengan deg-degan.
“Kalau gitu, aku boleh nggak ke rumah kamu sepulang sekolah, buat ngambil tuh kamus, soalnya aku belum ngerjain. Aku kasih boncengan deh?” pinta Rehan. Aku hanya mengangguk, Rehan ngomong thanks lalu melangkah pergi. Makasih Tuhan….
Nggak nyangka, sekarang aku berada di boncengan sepeda motornya Rehan. Terciuam aroma parfum Rehan, sumpaaah wangi banget!! Nggak kayak aroma badan cowok-cowok lain, hiii apeek banget…. rasanya ingin terus berada di boncengannya, dan menghirup aroma parfumnya. Berjam-jam nggak masalah, tapi kalau seminggu nggak jamin dech!!!
Sampai di depan pagar rumahku, Rehan menyenggol pundakku, aduh malunya…. ternyata aku melamun dengan posisi tangan melingkar di pinggangnya. Aku langsung melepaskan tanganku, dan turun dari sepeda motornya.
“Ehm, Re masuk dulu yuk…” kataku membuka pagar dan masuk ke dalam rumah, Rehan berjalan di belakangku.
“Eh, Mel, lagi ngapain?” tanyaku ketika melihat Amel sedang duduk di teras sambil asyik membaca majalah remaja.
“Baca majalah, tadi baru aja dateng….” kata Amel sambil menutup majalahnya, “Lhoo Putra, kok di sini?”
“Rehan maksud loe??” tanyaku terkejut. Amel mengangguk dan berkata, “Iya mantan gue yang pernah gue ceritain sama loe, yang itu lho…” kata Amel mengeraskan volume suara saat berkata ‘itu lho’
“Whaat….!!!” aku berteriak tak percaya, Rehan mantan Amel, dan Rehan berarti cowok kleptomania. Tidaaak….
Tiba-tiba pandanganku kabur, semua kelihatan berputar-putar, suara terdengar bising, dan dengan perlahan aku terjatuh ke lantai.
“Aloza, kenapa loe….??” terdengar suara Amel dan Rehan Saputra remang-remang.
Aaah… Dunia emang sempit bangeeet….!!!!.(ry)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar