Aku mengusap keringat di dahi sambil berjalan ke luar dari perpustakaan. Di depan pintu aku bertemu dengan Bu Wati, aku ingin menghindar tapi Bu Wati malah memanggilku, “Vinda, dari tadi ibu cari, ada di sini, to,” aku mengangguk, “Iya, ada apa ibu mencari saya?” Bu Wati mengajakku masuk perpustakaan dan duduk di kursi dekat rak-rak buku.
“Ibu cuma mau menawarkan…apa kamu mau menggantikan Mia mengikuti olimpiade matematika.” Aku bingung, “Maksudnya apa ya, bu. Kasihan Mia kalau tidak jadi ikut lomba, dia kan mendapat nilai tertinggi dan berhak mewakili SMP ini.”
“Dengarkan Bu Wati dulu, Mia sekarang sakit muntaber dan dirawat di rumah sakit, padahal lombanya besok hari Sabtu. Jadi semua guru memutuskan kamu yang mewakili sekolah ini.” Aku langsung mengangguk setuju, “Saya bersedia menggantikan Mia.” Bu Wati mengangguk, “Bagus, kalau begitu ibu tinggal dulu, belajar yang rajin, lomba kurang dua hari lagi.” Aku mengangguk lagi, “Terimakasih banyak, Bu!!”
Akhirnya, aku bisa mengikuti olimpiade itu, aku berjanji akan menjuarai lomba dan pergi ke Semarang. Lena…sampai bertemu di Semarang, Lena…I Miss You!!
Dengan tekad yang bulat, aku segera bersiap berangkat ke sekolah. Sampai di sekolah aku disambut banyak teman, aku minta doa dari mereka, tak lupa aku mohon doa restu pada guru-guru. Aku, Agung, dan Bu Wati berangkat ke Dinas Pendidikan pukul delapan. Sepanjang perjalanan aku tak henti-hentinya berdoa agar dapat mengerjakan soal dengan lancar.
Lama aku menunggu di ruangan ber-AC itu, akhirnya soal dibagikan, aku diberi enam lembar kertas. Tiga lembar berupa soal, satu lembar jawaban komputer, dan sisanya lembar corat-coret untuk menghitung jawaban. Aku segera mengisi LJK dengan pensil, kadang-kadang aku menghapus jawaban.
Enam puluh butir soal aku kerjakan dalam waktu satu setengah jam. Aku meninggalkan enam lembar kertas di meja dengan posisi kertas terbalik. Pengumuman masih lama, karena itu aku, Agung, dan Bu Wati makan di rumah makan yang Yumyyy…
Aku melangkahkan kaki di sepanjang koridor kelas, aku merasa heran banyak anak yang memberiku selamat…guru-guru pun menjabat tanganku dan juga memberi selamat. Ada apa siiih, aku jadi penasaran. Tapi penasaranku hilang setelah Rere memberitahuku kalau aku berhasil meraih juara satu.
“Oh my God..aku nggak nyangka kamu juara satu, kamu bisa ke Semarang tuuh,” kata Rere bertepuk tangan. Aku tersenyum, “Uhh makaciii, Cece!!”
“REREEE…”
“Cama aja!!”
Rere berlari meningggalkanku sendirian di depan kantin, “Mau kemana, Ree?”
“Kebeleeet.”
Ada-ada saja si Rere, aah lebih baik baca-baca buku di perpustakaan biar dapat juara satu lagi, ciiyee…
Akhirnya hari yang aku tunggu datang juga, hari Kamis pukul enam aku berangkat dari sekolah menuju Semarang, setelah beberapa minggu memperoleh bimbingan yang melelahkan, karena harus pulang petang.
Tapi semua itu tidak sia-sia, aku dapat mengerjakan soal-soal yang berjumlah tujuh puluh dengan lancaar. Saat itu aku luar biasa bersemangat, semua soal ludes aku kerjakan. Aku memandang seluruh ruangan, hanya aku yang sudah selesai mengerjakan. Dan hanya aku yang mempunyai semangat membara, he…hee…mungkin…!!
“Peserta yang sudah selesai mengerjakan soal boleh keluar ruangan, tinggalkan soal dan lembar jawaban di meja.” Aku segera melangkah keluar, dan duduk di bangku depan ruangan. Sepuluh menit, Agung keluar dari ruangan dan duduk di sebelahku.
“Vin, tumben kamu semangat mengerjakan soal tadi…” kata Agung seperti bisa membaca otakku. Aku nyengir, “Emang biasanya enggak?”
“Nggak...” Agung menggeleng, “Gara-gara apa bisa sesemangat itu?” sambungnya.
Aku tersenyum, “Nanti kamu juga akan tahu.”
Aku menghampiri Bu Wati, Bu Ayu, dan Pak Hendri yang sedang berbincang-bincang.
Aku mengutarakan apa yang aku inginkan di depan Bu Wati, Bu Ayu dan Pak Hendry. Semuanya mengangguk, aku mengucapkan terimakasih. Dalam perjalanan itu aku tidak sabar, aku memainkan tanganku yang penuh dengan keringat dingin.
Beberapa menit kemudian, aku, dan yang lainnya sampai di depan sebuah rumah yang berukuran sedang. Aku turun dari mobil dan mengetuk pintu itu sambil berteriak, “Len…Lena…” tapi tak ada suara dari dalam rumah. Aku mengetuk pintu lagi, menunggu beberapa menit. Terdengar suara srek, srek, jegleg…pintu dibuka oleh seorang nenek yang duduk di atas kursi roda. Mungkin beliau nenek Lena yang pernah ia ceritakan padaku, gumamku. Nenek itu memandangku heran, aku segera berkata, “Maaf Nek, saya Vinda dari Temanggung, saya sahabat Lena, dia ada?”tanyaku dengan pelan. Seketika wajah nenek itu berubah menjadi sedih.
Nenek mempersilahkan kami masuk dan duduk. Aku segera bertanya lagi, “Kenapa, Nek. Kok sedih…” nenek diam beberapa menit dan… “Lena, dia…mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan Temanggung ke Semarang.” Nenek menitikkan air mata, “Lena, cucuku di bawa ke rumah sakit, ia mengeluarkan banyak darah, pihak rumah sakit tidak mempunyai persediaan darah yang sama dengan golongan darahnya. Ayah dan Ibunya tidak mempunyai golongan darah yang sama karena sebenarnya Lena anak angkat dan akhirnya Lena meninggal…” nenek mengakhiri cerita. Aku terkejut bukan main, aku langsung menangis mendengar cerita itu.
Nenek memelukku, “Sabar ya, Vinda… Lena pasti bahagia di sana, karena mempunyai sahabat yang setia seperti kamu,” kata nenek sambil mengelus rambutku. Guru-guru dan si Agung juga terharu mendengar cerita nenek.
“Nek, bolehkah saya dan yang lain ke makamnya Lena?” tanyaku sambil sesenggukan. Nenek mengangguk dengan cepat. Lalu aku, nenek, guru-guru dan Agung berangkat menuju makam Lena diantar pak supir. Sampai di sana aku langsung berlari menuju pusara Lena. Tertulis nama LENA PUSPITA, lahir tanggal 24 Febuari 1995 dan meninggal pada tanggal 17 Juli 2008.
Aku memeluk gundukan makam Lena, “Len kenapa kamu pergi ninggalin aku…aku kangen sama kamu…kangen belajar bareng, contek-contekan saat ulangan dan kangen segala hal yang pernah kita lakukan bersama…” kataku lirih. Kulihat wajah mereka semua basah oleh air mata, nenek Lena menangis dengan mata yang sudah memerah.
Andai saja saat itu kamu tidak kembali ke Semarang, pasti semua tidak akan terjadi…batinku sambil menaburkan bunga ke gundukan makam Lena. Aku berdiri dan berjalan dengan gontai meninggalkan makam Lena. Lena semoga engkau bahagia di sana…aku hanya bisa mendoakan….kita tak kan bisa bertemu lagi, karena kita sudah berbeda dunia.(ry)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar