http://www.blogger.com/html?blogID=6428500706244982035

Sabtu, 05 Mei 2012

Boy O Lali

Kali ini aku bakal cerita pengalamanku waktu ikut lomba FLS2N drama di Boyolali, Jawa Tengah. Aku berangkat dari SMA N 1 Temanggung pukul 12 siang hari Selasa tanggal 24 April 2012. Aku berangkat bersama teman-teman satu grup drama (Edita/Etik, Tegar/Makmur, Zaky, Pram/Mondol), pengiring musik (Mas Yudha sama Mas Tris/Plenyok), pelatih teater (Mas Sugeng) dan sopir yang menjabat guru BK (Pak Setyanto). Sebelum berangkat ke Boyolali, kami mampir dulu ke Dinas, soalnya aku sama rombongan berangkat bareng tari dari SMA N 3 Temanggung, Firda dan Jati.
Setelah agak lama di Dinas, kami berangkat ke Boyolali, Mas Sugeng ikut mobilnya Dinas, dan aku bersembilan di mobil sekolah.
Di perjalanan pada ngocol nggak karuan, hawanya cuma ketawa terus. Setelah agak lama perjalanan, banyak yang tepar kecapean.
Kami sampai di Pondok Haji Donohudan pukul empat sore. Di sana kami langsung melakukan daftar ulang dan cek kamar. Nah di sinilah cerita dimulai..
Kamar yang disediakan panitia cuma enam, lima pemain sama satu pelatih. Padahal ada sembilan orang. Setelah dipikir-pikir akhirnya yang tiga orang disewakan kamar di lantai dua. Masalah kamar beres. Masalah yang lain muncul, buat makan pagi, siang dan sore panitia nyediakin kupon. Jadi yang nggak punya nggak bisa makan, yang diharapkan gitu, tapi kenyataannya nggak. Kami bersembilan tetap bisa makan dengan santainya, ada yang sampai ambil lauk tiga kali lipat padahal dia nggak punya kupon. Walaupun saat mau ambil piring pada was-was takut diliatin penjaga dari catering. Awal-awalnya, demi agar semuanya bisa makan, aku dan Etik bela-belain makan sepiring berdua. Sungguh ngenes! Tapi ternyata.. dengan santainya Mas Plenyok masuk kamar dengan membawa satu piring penuh nasi dan tiga mangkuk soto! TIGA !! Yakin, itu nyesek sekali.
Bagus deh, soal makan bisa diselesaikan..
Oh ya, ada cerita yang nggak bisa aku lupain. Yaitu pada saat TM (Technical Meeting) di aula. TM lomba drama berlangsung selama tiga jam, kontras sama lomba tari yang hanya sepuluh menit!
Saat TM, banyak yang protes ke juri tentang tidak jelasnya ketentuan drama. Penanya yang pertama Mas Sugeng dan menjalar ke pelatih-pelatih lain, dua puluh lebih!
suasana saat TM

Aku dan peserta lomba lain hanya bisa plonga-plongo di tempat, mau ikut ngomong juga kurang ahli. Aku dan satu grup malah teriak-teriak nggak jelas. 
Tapi pada saat TM, ada pemandangan yang sangat bagus!! Aku liat cowok yang bener-bener mirip sama Raditya Dika, mata, hidung, alis.. Walau yang ini lebih gedhe. Aku sempetin buat foto dia, lumayaan walau suasana lagi heboh tapi jepret-jepret tetep..

tuh kanan sama kiri mirip kan? - yg pake kacamata B)


TM reda setelah slah satu peserta maju dan menyampaikan isi hatinya.. Bahwa pasti peserta itu udah capek, apalagi besok pagi udah mau tampil lomba. Mohon para juri untuk segera menyelesaikannya.. Dan ajaib, setelah itu TM selesai dan dilanjutkan undian. Singkat cerita grup dramaku dapat nomor undi 29.
Setelah itu kami kembali ke kamar masing-masing untuk tidur.. zzz
Paginya, kami bangun. Dan klantung-klantungan nggak jelas. Kami tampil malem sekitar jam delapan. Setelah mandi, kami berkumpul di kamar C5. Jadi gini, kamar C5 adalah kamar kosong yang untuk kabupaten apa lupa, tapi nggak ikut lomba. Kalo tahu dari awal, nggak perlu ribet-ribet nyewa kamar segala kan -,-
Di kamar C5 kami latihan beberapa kali. Setelah capek, kami kembali ke kamar dan istirahat.
Malamnya, kami tampil!!
Mules banget waktu itu.. Walaupun lancar tapi temponya terlalu cepaat -__- yang penting udah tampil. Setelah itu kami menunggu pengumuman yang masuk final.
Dan yang masuk final adalah Purwokerto, Tegal, Surakarta, dan yang tiga lupa. Yang jelas grupku nggak, haha T__T.
Dan tahu nggak loe, yang mirip Raditya Dika itu dari Purwokerto dan dia masuk final! Bingung harus senang apa iri -.- selamat deh buat jiplakan Raditya Dika.
Setelah pengumuman, kami mampir di angkringan.
ini saya :)
aku nggak kelihatan -.-

di tengah jalan, tengah malam.

Trus kembali ke kamar. Dalam perjalanan, kami liat jam bagus. Akhirnya beli deh, padahal waktu itu udah jam satu pagi. Dan di dekat penjual jam ada jiplakan Raditya Dika lagi latihan. Dia duduk dengan membuka bajunya alias telanjang dada (melting ane >,<) sambil ngerokok. Well, no problemo.. just smoking..
 Pukul dua, aku, Etik dan Makmur kembali ke kamar dan kami berbanyak tidur bareng-bareng di kamar C5.
Paginya bangun.. trus gaje-gajean. Nggak mandi.. Haduuh, parah pokoknya. Trus kami memutuskan untuk jalan-jalan. Dan disinilah ke-kolik-an kami muncul, saking ndeso-nya, kami foto-foto di dalam lift, pose antri nunggu lift buka, sampe naik turun dari lantai satu ke lanta tiga, trus lantai dua ke lantai satu. Girang banget pokoknya. Waktu di lantai tiga, kami juga nyempetin foto lagi..
Harap maklum, masuk lift harus antre.

foto di dalam lift
Kembali ke kamar, ketemu sama Mas Sugeng, Mas Yudha, Mas Plenyo, trus foto-foto lagi :D.
Makmur di belakang kamera :D

Setelah siang kami mandi, trus foto-foto bersama grup dari Kabupaten Magelang. Ada Dila, Aviva, Mas Munier, Mas Gembel, dll.  
Foto bareng dari Kab. Magelang
foto bersama Mas Munier

muka-muka gila kamera :p

Setelah itu ke aula buat tahu hasil pemenang drama.
Asyik sekali, karena posisi dudukku dekat sama jiplakan Raditya Dika, dan aku bisa foto dia dari belakang, lumayaaann :D

Dan ternyata!!!
Yang juara satu adalah...
Adalah..
Grupnya jiplakan Raditya Dika, alias dari Purwokerto !
Omigot, ruaaar biasa..
Iri deh dia bisa terbang ke Mataram, Nusa Tenggara.. -__-
Setelah pengumuman, jemputan kami dari SMA datang dan kami pulang..
Di perjalanan, kami nggak diem. Bercanda terusss. Nyanyi-nyanyi sambil mainin gitar. Yang main Zaki. Dan nggak sembarangan. Main lagunya Kangen Band -_-
Sampai Temanggung pukul 6 sore..
Sungguh perjalanan selama tiga hari yang sangat melelahkan tetapi sangat mengesankan.
My best experince in My Month, April. Dan itu merupakan kado ulang tahun terspesial di tahun 2012.(ry)

Jumat, 20 April 2012

Abu-abu dalam Kalbu


Diam terpaku
Memandang sayu
Berwajah sendu
Berpikir semu
Berhati abu-abu dalam kalbu…
Membiarkan kepergianmu
Menjauh dariku
Kututup semua pintu
Di dalam hatiku…
Tak ada yang bisa tahu
Tak ada yang bisa bantu
Aku terbisu
Duduk termangu..
Kau memang candu
Kau seperi madu
Manis meresap darahku…
Nafasku menderu
Mengingat dirimu
Akankah kau kembali padaku
Akankah kau bersarang di hatiku
Aku pun tak tahu.(ry)

Selasa, 17 April 2012

Tiga Pilar Prakarsa Menakertrans

Melihat keadaan negara sendiri yang seperti ini, yaitu masih semrawutnya masalah ketenagakerjaan, saya jadi punya impian berkaitan dengan masalah tersebut. Jika di masa yang mendatang, saya bisa menjabat menjadi menteri tenaga kerja dan transmigrasi (Menakertrans) saya akan mencanangkan program-program yang mendongkrak kelangsungan hidup rakyat saya.
            Jika saya bisa menjadi Menakertrans, langkah pertama yang saya ambil adalah memperbaiki program kerja (proker) yang sudah ada, meniadakan proker yang memang tidak memberikan kemajuan bagi negara dan meningkatkan etos kerja apabila proker yang ada sudah dapat diperbaiki.
            Tiga poin tersebut akan saya jadikan pilar untuk pelaksanaan tugas saya. Penjabaran dari ketiga pilar yang saya sebutkan di atas adalah sebagai berikut:
            Memperbaiki proker yang sudah ada. Maksudnya adalah, tidak semua saya mulai dari nol. Hal-hal yang memang sudah tercanang dalam pelaksanaan Menakertrans, akan terus saya jalankan jika memang sesuai dengan perkembangan jaman. Hanya saja saya akan memperbaiki hal-hal yang sudah tercanang tersebut. Contohnya hal-hal yang berhubungan dengan pengiriman TKW maupun TKI ke luar negeri.
Kita semua tahu, bahwa saat ini tenaga kerja yang umumnya TKW sering mendapat perlakuan yang tidak pantas dari majikan-majikannya. Saya akan meninjau lebih jauh apa penyebab hal tersebut dapat terjadi dan segera melakukan pembaharuan. Dengan memberikan pengawasan yang lebih kepada para TKW dan memberikan bekal yang matang agar TKW dapat menyelesaikan masalah yang mereka hadapi di negara rantauan mereka tanpa mengalami kekerasan dan pelecehan.
Selanjutnya pilar yang kedua adalah meniadakan proker yang memang tidak memberikan kemajuan kepada negara, bahkan memberikan dampak yang negatif dan munculnya image buruk bagi negara kita. Contohnya adalah peniadaan pengiriman TKW atau TKI ke negara-negara tertentu atau kata lain pemutusan hubungan kerja. Kedengarannya memang terlalu ekstrem, tapi hal tersebut dapat saja kita lakukan mengingat pemutusan hubungan kerja tersebut kepada negara-negara yang diberitakan menyumbang kekerasan dan pelecehan seksual kepada TKW kita. Selain kekerasan dan pelecehan seksual, negara-negara tersebut sering kali memberikan gaji yang tidak selayaknya. Sehingga para TKW tidak merasakan hidup selayaknya di negeri sendiri. Maka tidak salah jika kita memutuskan hubungan kerja kepada negara-negara tersebut.
Lalu pilar yang ketiga adalah meningkatkan etos kerja apabila proker yang sudah ada dapat diperbaiki. Jika kita tinjau dalam negara kita, Indonesia ini mempunyai beribu-ribu pulau. Dan jika kita kaitkan dengan masalah transmigrasi dan tenaga kerja masih berhubungan sangat erat. Kita tahu bahwa penyebaran penduduk di Indonesia belumlah merata, persebaran penduduk ini cenderung berpusat di ibukota negara yaitu Jakarta. Sehingga Jakarta dan daerah sekitarnya mengalami peledakan penduduk. 
Saya sebagai Menakertrans akan bertindak tegas mengenai hal tersebut. Sebelunya amatilah peta di bawah ini.
Peta Indonesia
Peta di atas menunjukkan Indonesia terdiri akan beribu-ribu pulau yang masih jarang penduduk, kontras dengan pulau jawa yang sangat padat penduduk. Maksudnya adalah saya akan melaksanakan proker baru yaitu pemerataan penyebaran penduduk sampai ke wilayah penjuru Indonesia. Seperti Kalimantan, Sulawesi, Papua, Maluku, Nusa Tenggara. Hal tersebut diupayakan agar tidak terjadi lagi pemusatan penduduk yang mengakibatkan peledakan penduduk.
            Bersamaan dengan pencanangan pemerataan penduduk ke wilayah sampai dengan penjuru Indonesia, saya akan melaksanakan pembukaan lapangan tenaga kerja di wilayah-wilayah tersebut. Agar apa? Tentu saja pemerataan penduduk harus diimbangi dengan pemerataan tenaga kerja. Sehingga warga Indonesia yang bertransmigrasi ke wilayah-wilayah yang seperti yang ditunjuk mata panah, tidak kesulitan mencari pekerjaan dan dapat merasakan hidup makmur.
            Pembukaan lapangan kerja di wilayah-wilayah tersebut juga akan menekan berkurangnya pengiriman TKW maupun TKI ke luar negeri. Walau memang TKW dan TKI adalah pahlawan devisa, akan tetapi lebih baik mereka mengadu nasib di negara sendiri dan mendapatkan perlindungan yang layak. Sehingga mereka tidak perlu mempunyai rasa takut akan disiksa dan dilecehkan oleh majikan mereka. Yang terpenting, mereka tidak perlu mengadu nasib jauh dengan keluarga dan sanak saudara mereka. Apabila mereka bekerja di negara sendiri, mereka tetap bisa berkumpul dengan keluarga mereka.
Kenyataannya memang sulit melaksanakan program tersebut, karena tentu tidak semua orang mau bertransmigrasi ke wilayah-wilayah yang jarang penduduk seperti halnya Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Tetapi saya akan tetap berusaha menggalakkan program tersebut dengan bekerja sama dengan Menteri Perhubungan dan Menteri Komunikasi dan Informasi. Sehingga Wilayah-wilayah tersebut akan lebih maju sehingga penduduk yang bertransmigrasi akan merasa nyaman.
Itulah langkah-langkah yang akan saya ambil andai saya menjadi Menakertrans di masa yang akan datang. Agar tidak terjadi lagi kekerasan, pelecehan terhadap TKW atau TKI kita. Dan terwujudnya pemerataan penduduk sehingga tidak ada lagi masalah peledakan penduduk.(ry)

Senin, 16 April 2012

Singkatan Lebay

Sebenarnya ini terjadi begitu saja, tanpa ada niat. Karena pagi tadi, aku dan salah satu temanku, Nana sms-an trus keterusan sampai mbahas hal-hal gaje. Seperti buat singkatan-singkatan ala kami berdua.
Ini singkatan bukan sembarang singkatan, ini benar-benar singkatan lebay !
Jadi gini, aku sms nama barang trus si Nana sms singkatan dari nama barang itu.
Contohnya aja, kita tahu kalo guru itu singkatan dari digugu lan ditiru trus garwa singkatan dari sigaring nyawa. Nah kalo yang di bawa ini, belum pernah deh nyantel di benak kalian. Enjoy it !

Cantik : canting batik
Caping : catakan emping
Criping : crita pemancing
Cacing : cari pancing
Cincing : cinta cinging
Anting : akika tinta pancing
Puting : pusing tujuh keliling
Piring : pipisnya miring
Popok : pojok pos kamling
Pintu : pilih menantu
Lemari : lemah ringan
Kulkas : kuliah kasar
Karpet : tikar mepet
Duit : kudu irit
Cagak : cari gagak
Tomat : toko mamat
Ciduk : cini duduk
Kursi : kukur silet
Meja : melas de'e ja
Nampan : nampaknya sudah mapan
Tribun : teri buntel
Suket : susu ketan
Bagor : baso batagor
Merona : memasak ro nana

 Harap maklum lah, namanya juga dua insan manusia yang masih lebay :D.(ry)



Ini nih foto penulis, aku dan Nana XD

Jreng Jreng was Wow !

Oke, ini cerita tentang kelasku, jadi tanggal 21 Maret 2012 kami sekelas praktek gitar. Nggak sombong sih, tapi semuanya lancaaar :p. Hari itu ada enam kelompok yang tampil. Pertama kali yang tampil kelompokku !! Maenin lagunya Astrid yang Tentang Rasa. Trus kelmpok laen, lagu d'Masiv, Anima, Padi, Lyla, dan lagu yang terakhir Duo Heboh, alias Suci dan Swaagh, maenin lagunya Lady Gaga.(ry)

 
Ini nih video kelompokku, dengan latihan hanya tiga hari



Ouch ! Bee !

Ini cerita aku alami kemaren, tepatnya hari Minggu tanggal 15 April 2012, di kamarku.
Waktu itu sekitar pukul sepuluh aku nonton film Bee Movie, film kartun tentang lebah. Nonton sendirian di depan laptop sambil tiduran di kasur. Filmnya bagus, lucu, ya begitulah.

Ya seperti inilah gambar dari filmnya

Sebenarnya nggak ada yang istimewa dari film itu, tapi yang buat aku "terkesan" sampai harus ngeposting di blog adalah... ada tawon yang sepertinya tertarik sama filmnya dan ikut nonton. Tapi celakanya, tawon itu emang nyebelin banget. Ceritanya ada tiga tawon yang masuk ke kamarku, tawon pertama malah terbang di atap-atap kamar, dengan suara bisingnya. So pasti aku terganggu, aku mengusir tawon itu dengan guling. Aku mengarahkan ke tawon, buk buk buk ! Tawon itu kalah, dia menempel di jendela. Aku melempar guling dan mengambil penggaris dan memukul tawon berkali-kali. Setelah tawon kelihatan tepar, aku membuka jendela dan tawon itu dengan cepat melarikan diri.
Fiuuh, aku lanjutkan nonton filmnya.
Selang beberapa menit, dari kamar adikku muncul tawon lagi, dia terjerat di sarang laba-laba di kamar adikku *well, kamarku dan adikku ada celah yang tidak tertutup dinding bagian atasnya* aku nggak peduli sama kesulitan tawon melepaskan diri. Tapi.. Tapi !! Secara tiba-tiba tawon itu meluncur ke bawah tepatnya ke arahku ! Aaaa ! Aku guling-guling tapi aku nggak lihat tawon iu di mana, saat aku duduk akan bangkit berdiri.. Ouuuch!! Tawon jahanam itu, menancapkan tongkat kecil di belakang tubuhnya tepat di bok*ngku !! Awwww sakiiit.. aku menjerit-jerit ku dengar suara ibuku bertanya. Aku tak mengacuhkan. Aku mengusap-usap bok*ngku, perihhh sakiiit dan cenar cenut.
Aku langsung mengambil penggaris dan memukul-mukul tawon itu dengan penuh kebencian. Dan akhirnya tawon itu mati. Haha aku bahagia walau kesakitan, aku mengambil tawon dengan penggaris dan melemparkannya keluar jendela.
Dengan merintih kesakitan, aku melanjutkan nonton filmnya.
Tapi sialnya, selang beberapa menit ada tawon yang masuk ke kamarku lagi. Aku menjeri-jerit dan langsung membantai tawon itu. Setelah sekarat, aku membuang tawon itu keluar.
Omigoot, hari yang melelahkan. Gara-gara nonton film Bee Movie kamarku kedatangan tawon tiga kali, bonus rasa sakit di bok*ng ! T_____T sungguh menyerikkan dan menyakitkan.(ry)

Minggu, 15 April 2012

Aw Aw Some

Sebenernya ini cerita udah kadaluarsa... Soalnya kejadiannya tanggal 17 Maret 2012, udah hampir satu bulan. Nggak papa deh, aku punya waktu buat nulis juga baru sekarang *sok sibuuk :p
Jadi gini nih ceritanyaaa..
Sabtu pagi, kami udah ada di sekolah nunggu bis yang bakal bawa kami ke Borobudur, Yap! Pagi itu kami sekelas ditambah wali kelas juga sopir + kernet mau ke Borobudur buat melaksanakan tugas. Nyari bule trus wawancara sama mereka di sana (well, satu kelompok minimal dapet 5 bule).
Syok banget waktu denger itu, yang bener aja? Ngomong sama bule emang gampang ya?
Trus pukul delapan kami berangkat, Di perjalanan, baru juga nyampe Secang temen-temenku udah pada sibuk ngemil. Ngorderin makanan dari depan ke belakang, begitu juga sebaliknya.
Akhirnya pukul sepuluh, kami sampai di Borobudur. Kami semua turun dan bersama-sama berjalan menuju candi. Sebelumnya, kami berempat (aku bersama Arum dan Indi) ditemani wali kelas, Bu Rita pergi ke loket buat minta potongan harga *maklum anak sekolah :p.
Ini nih duo narsis, lagi sibuk ngurus tiket malah minta difotoin
Setelah urusan tiket beres, kami berbondong-bondong masuk gerbang Borobudur. Trus disuruh make kain batik, ceileeeh keren dah pokoknya. Belum juga naek candi, kelompokku (Cendana, Inid, Rasyid dan Hana) udah dapet satu bule dari Perancis. Nggak asyik sih wawancaranya, abisnya ternyata bahasa inggris kami lebih jagoo, bisa nyombong dikit sih :p abisnya aku kira inggris ku bakalan plegak-pleguk ternyata sipirili.
Trus kami naek naek ke puncak Borobudur. Bule kedua dari India, dan giliran aku yang mewawancarai. Kalo yang ini, inggrinya cas cus, tapi aku nggak kalah sih :p. Nama bulenya susah, aku lupa. Ternyata dia tinggal di Indonesia, tepatnya Purwakarta -___- agak gondok deh..
taraaa, foto bersama Mrs. India, lupa namanya --v

Trus bule ketiga, Cendana yang mewawancarai namanya Sherly dari USA. Jangan ditanya, wes ewes ewesss banget inggrisnya, dia nrocos aja, kami cuma senyam-senyum, dia ketawa kami ikut ketawa padahal nggak tahu apa yang lucu. Duh duh, nasiib.
Bule keempat giliran Hana yang wawancara, dia dapet bule dari Korea, keren sih masih muda. Tapi nggak bikin tertarik. Bule terakhir namanya lupa lagi, yang wawancara Rasyid sih bukan aku. Lagian aku udah capek banget naek naek ke puncak Borobudur. Yang aku tahu dia sukaaaa banget sama pedes.
Yah ternyata nyari lima bule nggak susah-susah amat. Malah bahaaagiaaa, hehe.
Setelah itu, kami duduk-duduk, sambil foto-foto *itu sih nggak ketinggalan.
ini dia fotonyaaaa >,<
Trus bareng-bareng ke bis, dan makaaan *akhirnyaaa. Lahap banget pokoknya.
Dan setelah dari Borobudur, kami go to Ketep !! Ihhi, asyik deh..
Di sana foto-foto juga, cuma itu sih.
Sebenarnya ada kejadian yang lucuuuuu gila XD tapi kasihan ah kalo di ceritain di sini. Ada masalah juga sih tentang kelas tetangga, tapi biarlah bukan urusan. Yang penting kelasku ndaaak :p
Beuh beuh, pokoknya asyik deh hari Sabtu itu. Aku sampe rumah pukul setengah enam, capek bukan main tapi bahagiaaa.
Oh ya, di Borobudur kami sempat foto bersama satu kelas bonus wali kelas :D
Pokoknya moment asyik deh, bisa maen bareng-bareng sama keluarga OX1GEN.(ry)
Odyssey of X-1 Generation

Kerinduan Butuh Ruang untuk Mengenang Bag. 3 ~selesai

Aku mengusap keringat di dahi sambil berjalan ke luar dari  perpustakaan. Di depan pintu aku bertemu dengan Bu Wati, aku ingin menghindar tapi Bu Wati malah memanggilku, “Vinda, dari tadi ibu cari, ada di sini, to,”  aku mengangguk, “Iya, ada apa ibu mencari saya?” Bu Wati mengajakku masuk perpustakaan dan duduk di kursi dekat rak-rak buku.
            “Ibu cuma mau menawarkan…apa kamu mau menggantikan Mia mengikuti olimpiade matematika.” Aku bingung, “Maksudnya apa ya, bu. Kasihan Mia kalau tidak jadi ikut lomba, dia kan mendapat nilai tertinggi dan berhak mewakili SMP ini.”
            “Dengarkan Bu Wati dulu, Mia sekarang sakit muntaber dan dirawat di rumah sakit, padahal lombanya besok hari Sabtu. Jadi semua guru memutuskan kamu yang mewakili sekolah ini.” Aku langsung mengangguk setuju, “Saya bersedia menggantikan Mia.” Bu Wati mengangguk, “Bagus, kalau begitu ibu tinggal dulu, belajar yang rajin, lomba kurang  dua hari lagi.” Aku mengangguk lagi, “Terimakasih banyak, Bu!!”
            Akhirnya, aku bisa mengikuti olimpiade itu, aku berjanji akan menjuarai lomba dan pergi ke Semarang. Lena…sampai bertemu di Semarang, Lena…I Miss You!!
            Dengan tekad yang bulat, aku segera bersiap berangkat ke sekolah. Sampai di sekolah aku disambut banyak teman, aku minta doa dari mereka, tak lupa aku mohon doa restu pada guru-guru. Aku, Agung, dan Bu Wati berangkat ke Dinas Pendidikan pukul delapan. Sepanjang perjalanan aku tak henti-hentinya berdoa agar dapat mengerjakan soal dengan lancar.
            Lama aku menunggu di ruangan ber-AC itu, akhirnya soal dibagikan, aku diberi enam lembar kertas. Tiga lembar berupa soal, satu lembar jawaban komputer, dan sisanya lembar corat-coret untuk menghitung jawaban. Aku segera mengisi LJK dengan pensil, kadang-kadang aku menghapus jawaban.
            Enam puluh butir soal aku kerjakan dalam waktu satu setengah jam. Aku meninggalkan enam lembar kertas di meja dengan posisi kertas terbalik. Pengumuman masih lama, karena itu aku, Agung, dan Bu Wati makan di rumah makan yang Yumyyy…
            Aku melangkahkan kaki di sepanjang koridor kelas, aku merasa heran banyak anak yang memberiku selamat…guru-guru pun menjabat tanganku dan juga memberi selamat. Ada apa siiih, aku jadi penasaran. Tapi penasaranku hilang setelah Rere memberitahuku kalau aku berhasil meraih juara satu.
            “Oh my God..aku nggak nyangka kamu juara satu, kamu bisa ke Semarang tuuh,” kata Rere bertepuk tangan. Aku tersenyum, “Uhh makaciii, Cece!!”
            “REREEE…”
            “Cama aja!!”
Rere berlari meningggalkanku sendirian di depan kantin, “Mau kemana, Ree?”
            “Kebeleeet.”
            Ada-ada saja si Rere, aah lebih baik baca-baca buku di perpustakaan biar dapat juara satu lagi, ciiyee…
            Akhirnya hari yang aku tunggu datang juga, hari Kamis pukul enam aku berangkat dari sekolah menuju Semarang, setelah beberapa minggu memperoleh bimbingan yang melelahkan, karena harus pulang petang.
            Tapi semua itu tidak sia-sia, aku dapat mengerjakan soal-soal yang berjumlah tujuh puluh dengan lancaar. Saat itu aku luar biasa bersemangat, semua soal ludes aku kerjakan. Aku memandang seluruh ruangan, hanya aku yang sudah selesai mengerjakan. Dan hanya aku yang mempunyai semangat membara,  he…hee…mungkin…!!
            “Peserta yang sudah selesai mengerjakan soal boleh keluar ruangan, tinggalkan soal dan lembar jawaban di meja.” Aku segera melangkah keluar, dan duduk di bangku depan ruangan. Sepuluh menit, Agung keluar dari ruangan dan duduk di sebelahku.
            “Vin, tumben kamu semangat mengerjakan soal tadi…” kata Agung seperti bisa membaca otakku. Aku nyengir, “Emang biasanya enggak?”
            “Nggak...” Agung menggeleng, “Gara-gara apa bisa sesemangat itu?” sambungnya.
Aku tersenyum, “Nanti kamu juga akan tahu.”
Aku menghampiri Bu Wati, Bu Ayu, dan Pak Hendri yang sedang berbincang-bincang.
            Aku mengutarakan apa yang aku inginkan di depan Bu Wati, Bu Ayu dan Pak Hendry. Semuanya mengangguk, aku mengucapkan terimakasih. Dalam perjalanan itu aku tidak sabar, aku memainkan tanganku yang penuh dengan keringat dingin.
            Beberapa menit kemudian, aku, dan yang lainnya sampai di depan sebuah rumah yang berukuran sedang. Aku turun dari mobil dan mengetuk pintu itu sambil berteriak, “Len…Lena…” tapi tak ada suara dari dalam rumah. Aku mengetuk pintu lagi, menunggu beberapa menit. Terdengar suara srek, srek, jegleg…pintu dibuka oleh seorang nenek yang duduk di atas kursi roda. Mungkin beliau nenek Lena yang pernah ia ceritakan padaku, gumamku. Nenek itu memandangku heran, aku segera berkata, “Maaf Nek, saya Vinda dari Temanggung, saya sahabat Lena, dia ada?”tanyaku dengan pelan. Seketika wajah nenek itu berubah menjadi sedih.
            Nenek mempersilahkan kami masuk dan duduk. Aku segera bertanya lagi, “Kenapa, Nek. Kok sedih…” nenek diam beberapa menit dan… “Lena, dia…mengalami kecelakaan saat dalam perjalanan Temanggung ke Semarang.” Nenek menitikkan air mata, “Lena, cucuku di bawa ke rumah sakit, ia mengeluarkan banyak darah, pihak rumah sakit tidak mempunyai persediaan darah yang sama dengan golongan darahnya. Ayah dan Ibunya tidak mempunyai golongan darah yang sama karena sebenarnya Lena anak angkat dan akhirnya Lena meninggal…” nenek mengakhiri cerita. Aku terkejut bukan main, aku langsung menangis mendengar cerita itu.
            Nenek memelukku, “Sabar ya, Vinda… Lena pasti bahagia di sana, karena mempunyai sahabat yang setia seperti kamu,” kata nenek sambil mengelus rambutku. Guru-guru dan si Agung juga terharu mendengar cerita nenek.
            “Nek, bolehkah saya dan yang lain ke makamnya Lena?” tanyaku sambil sesenggukan. Nenek mengangguk dengan cepat. Lalu aku, nenek, guru-guru dan Agung berangkat menuju makam Lena diantar pak supir. Sampai di sana aku langsung berlari menuju pusara Lena. Tertulis nama LENA PUSPITA, lahir tanggal 24 Febuari 1995 dan meninggal pada tanggal 17 Juli 2008.
            Aku memeluk gundukan makam Lena, “Len kenapa kamu pergi ninggalin aku…aku kangen sama kamu…kangen belajar bareng, contek-contekan saat ulangan dan kangen segala hal yang pernah kita lakukan bersama…” kataku lirih. Kulihat wajah mereka semua basah oleh air mata, nenek Lena menangis dengan mata yang sudah memerah.
            Andai saja saat itu kamu tidak kembali ke Semarang, pasti semua tidak akan terjadi…batinku sambil menaburkan bunga ke gundukan makam Lena. Aku berdiri dan berjalan dengan gontai meninggalkan makam Lena. Lena semoga engkau bahagia di sana…aku hanya bisa mendoakan….kita tak kan bisa bertemu lagi, karena kita sudah berbeda dunia.(ry)

Minggu, 08 April 2012

Blackberry, Good Bye

 “Lebih baik sakit gigi dari pada sakit hati…”
            Sepenggal lagu dangdut itu pasti jadi lagu favorit bagi kaum muda-mudi yang ditolak cintanya… Kayak si Tora, client-ku yang lagi ngejar-ngejar temen sekelasku. Awal mula dia meminta bantuanku, karena sudah lebih dari satu kali dia nembak si Dewi, tapi hasilnya nol besar!!
            Lalu Tora denger-denger kabar dari biang gosip kalo aku pernah nyomblangin Vandi sama Dita, eh jadian! Jadinya dia percaya kalo aku pasti juga bisa bikin Dewi buat nerima cintanya. Aku jadi geli sama pemikiran si Tora. Dita mau nerima Vandi karena emang Dita suka sama Vandi.
            Nah ini beda lagi, walaupun Tora nembak Dewi dengan aku sebagai mak comblangnya, tetap aja Dewi nolak, wong dia aja nggak suka! Cinta kan nggak bisa dipaksain!! Tapi nggak papalah, aku mau bantu si Tora, kasihan banget kalo inget kisahnya.
            Apalagi dia janji, kalo aku bener-bener bisa bikin dia jadian sama Dewi, dia bakalan beliin aku hape keluaran terbaru dari Blackberry yang selama ini aku idam-idamkan… Yang harganya jelas lebih dari uang bulananku selama dua tahun!! Buat Tora, itu sih hal yang mudah, dia kan tajir!!
###
Pagi harinya…
            “Hi Wi…” sapaku saat melihat Dewi masuk ke dalam kelas, Dewi menghampiriku dan duduk disampingku.
            “Wi, emangnya kamu beneran nggak suka sama Tora…” tanyaku tanpa ba-bi-bu lagi.
            “Ya jelas lah… Apa sih yang bisa diharapkan dari si jelek itu…” kata Dewi pedas.
            “Tapi dia kan tajir, otak lumayan encer pula…” aku melancarkan aksiku, dengan harapan Dewi menerima cinta Tora dan aku mendapatkan hape Blackberry itu.
            “Ka, mending kalo mukanya kayak Tora Sudiro yang ganteng dan macho itu, aku pasti demen… Lah ini, badan bentek jelek pula.. iih…!” kata Dewi bergidik. Aku hanya geleng-geleng  kepala mendengar perkataan Dewi.
            “Tora kan nggak jelek-jelek amat, Wi… lagian kamu bisa nyoba pacaran dulu sama dia, siapa tahu kalian cocok,” kataku sok ngasih saran.
            “Rinka, kayaknya yang suka sama Tora tuh kamu deh bukan aku…” kata Dewi yang langsung membuatku bergidik.
            “Iiih, kamu kok bisa ngomong gitu sih…” aku mencibir.
            “Habisnya kamu muji-muji Tora terus, jelas-jelas dia buruk rupa…”
            Aku manyun mendengar perkataan Dewi. Sabar Rinka, masih ada waktu, huufh…
Di kantin…
            Kami bertemu dengan Tora yang sedang menikmati mie goreng dan Jaka yang sedang asyik dengan teh botolnya. Kulihat wajah Dewi yang berubah jadi muram, aku lalu memberi isyarat kepada Tora agar dia bersikap biasa aja ke Dewi.
            Semua berjalan normal, Dewi nggak menghindar kayak biasa kalo dia ketemu Tora. Tapi semua mendadak dangdut… loh loh, mendadak hancur maksudnya, saat Jaka dengan pedenya mengeluarkan suara jeleknya.
            “Dewiii kaulah hidupku… aku cinta padamu sampai matiii, oow…. Dewi belahlah dadaku agar kau tau… agar kau mengerti, ouwo… ouwo..!!” dengan pedenya, Jaka menyanyikan lagu milik Dewa 19 sambil menunjuk ke arah Dewi. Alhasil, beberapa anak yang sedang nongkrong di kantin itu tertawa terbahak-bahak sambil memandang ke arah Dewi.
            Muka Dewi merah padam karena malu, dia pergi dari tempat itu tanpa berkata apa-apa. Aku berjalan dibelakang Dewi jalanku terseok-seok karena jalannya cepat sekali. Aku memalingkan wajah kebelakang, kudapati wajah Tora yang kelihatan kecewa berat.
            Kalo kejadiannya gini terus, gimana aku bisa ngedapetin hape itu…
###
            Hari Senin, seperti biasa aku berangkat sekolah lebih pagi dengan scooter-ku, dengan bersiul-siul nggak jelas, aku memarkirkan scooter kesayanganku di tempat biasa. Kulihat Tora mendatangiku masih mengenakan jaket dan menenteng tasnya.
            “Hai, Ka….” sapanya ceria.
            “Hai… tumben ceria, udah lupa kejadian Sabtu kemaren?” tanyaku bemaksud menggodanya. Tapi dia malah mengangguk riang, “Yap… aku udah ngelupain semua kejadian kemarin.”
            Aku melongo tak percaya, “Maksudnya?”
            “Aku udah nggak ambil pusing lagi. Seharian kemarin, aku mikirin Dewi terus, dan aku sadar kalo aku nggak pantes buat dia… Lagian sekarang aku dah nemuin seseorang yang emang pantes buat aku… Ka, makasih karena kamu dah mau nolongin aku kemaren. Tapi sekarang aku dah nggak butuh bantuan kamu lagi. Semua udah selesai…” penjelasan Tora membuat kupingku berdenging.
            “Jadi… bantuan mak comblangku udah selesai…?” tanyaku masih nggak percaya.
            “Yap!! Karena mulai sekarang statusku nggak jomblo lagi…” kata-katanya tetap ceria. Melihat ekspresiku yang berubah drastis, dia bertanya, “Kamu kenapa sih, Ka?”
            “Ehm, jadi ak-ku ng-gak jadi da-pet Blackberry dari kamu…?” tanyaku terbata-bata.
            “Ya nggak lah… kan aku nggak jadian sama Dewi. Ya dah ya, Ka… aku duluan, upacara hampir dimulai nih…” kata Tora melambaikan tangannya sambil menjauh dariku.
            Lutut dan badanku tiba-tiba menjadi lemas, kulihat diatas kepalaku, hape Blackberry berputar-putar sambil tertawa… pelan dan pelan. Pandanganku kabur, lamat-lamat kudengar suara-suara menyerukan namaku dengan cemas, dan blass… semuanya menjadi gelap.(ry)



Kamis, 08 Maret 2012

Curhatan Malam Hari

STUPID!
Aku nggak mungkin sesakit ini kalo dari dulu melepasnya..
Kata-kata di FTV ~well, cuma iseng nonton karena nggak ada kerjaan~ pagi tadi emang ada benernya.
"Dia udah terkunci di otak gue. Dan gue nggak bisa menghilangkan dia dari pikiran gue, karena nggak tahu kuncinya dimana!"
Cuplikan perkataan itu buat aku sadar, apa begitukah aku memperlakukanmu?
Haha, perlu tertawa sebentar lalu mendesah pelan..
Yang jadi pertanyaanku, apakah cinta itu tersimpan di otak?
Bukan di dalam hati?
Bah, siapa aku yang sampai pusing-pusing memikirkan hal itu.
Memikirkan dia saja udah buat kepala cenat-cenut.
Dan yang buat aku sampai sesakit ini adalah..
Sebenarnya bukan perkara yang sulit, tapi entah kenapa buat dada ini sesak bernapas.
Dia. Yang notabene cowok yang aku cinta *tidak dilarang tertawa* belum pasti tahu perasaanku ini.
Ya, walaupun sudah lebih dari tiga tahun aku memendam rasa ini. Tuingg.. otakku langsung memutar lagu Vierra Rasa Ini..
Stop! Nggak ada hubungan dengan lagu itu sebenarnya. Lebih cucook lagu Seandainya, mungkin :'/
Ok, kembali..
Aku bukan cewek yang ngebet sampai harus "nembak" duluan. APA KATA DUNIA?!
Walaupun abad ini lagi ngtrend tentang emansipasi wanita, tapi helloo.. pernah kenal kata MALU dan HARGA DIRI?
Aku pernah, dan itu sangat mengerikan kalo sampai dilanggar.
Flashback, aku jadi inget wanti-wanti guruku tentang... cewek.
"Jangan sekali-kali cewek mengatakan cinta ke cowok. Itu hal yang tabu!"
Bahkan, guruku saja sudah mewanti-wanti seperti itu. Nggak boleh dilanggar lah, guru kan digugu lan ditiru :D
Oke, jadi aku harus menunggu oo menanti tepatnya ~karena kata Bapakku menunggu dan menanti punya arti yang berbeda~ sampai dia kembali dan mengutarakan perasaannya kepadaku.
Bah, aku sudah sangat PD saat ini..
Kalaupun dia kembali dan tidak melakukan itu, aku baru akan menyadari satu hal. Bahwa tiga tahun itu sia-sia. Dan aku akan mengerti makna tidak dan belum.
Kenapa harus menunggu sampai dia kembali?
Apa loe sangat bodoh, sampai harus menunggu tiga tahun untuk menanti jawaban tidak? Ya, mungkin itu aku..
Tidak dan Belum...
Bahkan aku belum tahu jawaban mana yang akan aku dapat.
Makanya, aku harus menunggu dia kembali.
Jangan salahkan aku jika aku melakukan hal itu. Karena itu nyaman untukku, keluar dari kenyataan apa itu salah atau benar. Aku nggak mau tahu!
Aku sempat mengutuk orang-orang di luar sana, mengapa mereka begitu mudahnya menjalani kehidupan cinta mereka? Apa mereka tidak tahu, aku masih berdiam menanti cinta tiga tahun yang nggak kunjung datang!
Sebenarnya bukan salah mereka, aku saja yang belum bisa bergerak maju. Atau mungkin tidak..

Ya, seenggaknya kalau tidak ada dia, aku nggak mungkin merasakan warna-warni cinta. Walaupun harus merasakan sakit..

"Trimakasih tuk luka yang kau beri..." perlahan lagu milik Geisha menyerang otakku.
Aku biarkan otakku diserang lagu itu..
Bah, luka yang indah..(ry)

Selasa, 06 Maret 2012

Kerinduan Butuh Ruang untuk Mengenang Bag. 2

Hari itu tidak ada pelajaran, hanya bersih-bersih, aku pergi ke kantor kepala sekolah untuk menanyakan kenapa nama Lena tidak ada. Aku mengetuk pintu ruang kepala sekolah, lalu aku masuk ke dalam. Pak Hendri, sedang sibuk mengurus surat-surat di mejanya.
            “Maaf pak, saya mengganggu sebentar,” kataku sopan.
            “Yaa silahkan, ada apa?” Pak Hendri memandang ke arahku, lalu menyilahkan aku duduk.
             “Saya mau tanya, murid yang bernama Lena Puspita, murid kelas VII D yang sekarang naik ke kelas delapan kok tidak tercantum di papan pengumuman, pak?”
            Pak Hendri membetulkan kacamatanya, “Lena pindah dari SMP ini,”       
Aku tersentak, hampir jatuh dari tempat duduk, tapi segera aku tahan. Aku membetulkan dudukku yang miring, “Kenapa pindah pak?”
            “Maaf Vinda, bapak tidak tahu. Kamu bisa menghubungi Lena kan, dengan HP atau telepon?” kata pak Hendri memberi pendapat. Aku mengangguk, “Terimakasih pak, kalau begitu saya permisi dulu,” Aku keluar kantor kepala sekolah dengan lemas, sangat lemas. Aku kembali ke kelas yang baru dengan langkah gontai. Kulihat keadaan kelas sudah mendingan, lebih bersih.
            Hari itu pulang pagi, aku mengambil tas dan berjalan keluar sekolah untuk mencari angkot. Sampai di rumah, aku menjatuhkan diri di kasur dan menangis sederas-derasnya bukan sekencang-kencangnya. Kenapa sih Lena harus pindah? Padahal aku sayang banget sama Lena. Pasti kalian pikir aku orang bodoh, nangis-nangis hanya karena sahabat. Mungkin kalian kira aku bego’ bercerita tentang sahabat sejati bukan cerita tentang percintaan yang romantis, mengesankan, piuuh!!. Tapi kalau kalian merasakan apa yang aku rasakan pasti kalian akan nangis... sama seperti aku, mungkin lebih parah.
            Aku jadi menyesal, kenapa aku nggak minta nomer HP atau telepon Lena…padahal sudah setahun aku bersamanya, uuuh aku jadi menyalahkan diri sendiri.  Untung saja aku sudah tahu alamatnya, tapi setiap aku ingin mengirim surat aku jadi ragu. Bantal tempatku bertumpu basah, tapi aku tak peduli, kalau rumahku banjir karena air mataku  Selama satu minggu aku melakukan hal yang sama, menangis dan berdiam diri di kamar.
            Saat istirahat pertama, aku duduk di koridor kelas, hal yang sama yang aku lakukan waktu Lena masih sekolah di sini. Rere teman sebangkuku, yang juga teman SD dulu menghampiriku, “Agustina, mau ikutan nggak?” kata Rere duduk di sebelahku.
            “Emang ikutan apaan?”
            “Ikutan olimpiade matematika tingkat kabupaten, kalau menang ke Semarang lhoo, daftarnya di perpustakaan” sahut Rere.
“Kalau aku bisa menang dan ke Semarang, aku bisa bertemu Lena,” fikirku. Aku segera berlari menuju perpustakaan, meninggalkan Rere sendirian.
            Sampai di perpustakan, aku segera menghampiri Bu Wati. “Maaf Bu, saya mau ikut lomba Olimpiade matematika,” kataku akhirnya. Bu Wati mengangkat kepalanya, “Vinda, silahkan isi formulirnya dan seleksinya besok hari Selasa.” Kata Bu Wati mengakhiri pembicaraan, aku mengambil formulir dan langsung mengisinya, semoga aku bisa lolos seleksi.
            Aku dan anak lain yang ikut seleksi absen pelajaran jam keempat dan lima, sekitar lima puluh anak masuk ke dalam ruang keterampilan, laki-laki dan perempuan.  Di sana sudah berjejer rapi meja dan bangku, aku segera duduk di bangku deretan paling depan. Soal dibagikan, aku langsung menyerbu soal-soal di kertas, satu demi satu aku kerjakan sampai tuntas, walau ada beberapa soal yang aku ragukan. Aku melihat jam tanganku, aku menyelesaikan soal dalam waktu satu jam sepuluh menit. Aku menyerahkan lembar jawaban kepada Bu Suci, guru biologi.
             Aku melangkahkan kaki menuju kelas, masih ada waktu sepuluh menit lagi untuk mengikuti pelajaran fisika. Dan setelah pelajaran itu dilanjutkan pelajaran kesenian oleh Pak Candra. Pikiranku tidak bisa menyatu dengan materi fisika yang disampaikan, aku masih memikirkan apakah aku lolos untuk mengikuti lomba olimpiade matematika. Dan apakah aku bisa menjuarai lomba dan pergi ke Semarang, bertemu Lena..??   
            Di rumah aku berkutat di depan meja belajar dengan setumpuk buku paket matematika yang tadi aku pinjam, walau aku belum tahu siapa yang akan ditunjuk sebagai perwakilan dari SMP tercinta ini. Kubuka halaman demi halaman buku, menghafal rumus-rumus matematika, dan mengerjakan soal-soal di selembar kertas.
            Aku berlari melewati koridor-koridor kelas, sampai di perpustakaan aku melihat pengumuman. Aku mencari namaku di papan pengumuman, tapi…huuh aku langsung tertunduk, aku tidak lolos seleksi…aku dapat peringkat dua setelah Mia Sartika. Mungkin memang belum saatnya aku ikut olimpiade matematika. Impian besarku hanya bisa kupendam, entah sampai kapan. Lena, kapan kita bertemu…? Kenapa kamu pergi…!!!.(ry)