Sekarang aku benar-benar terjebak dalam kesendirian. Sebenarnya nggak sendirian di dalam kelas, ada 8 orang. Tapi posisi aku emang lagi sendiri. Enam orang lagi pada curhat di sudut kelas, dan nggak lucu kalo aku nguping buat membunuh rasa sepi, satu teman lagi menikati musik. Dan aku... cuma bisa ngadep laptop sambil bengong di depannya.
Dari pada bengong kayak orang bego', mending ngelanjutin kisah tentang sahabat ku itu.
Tika..
Aku bener-bener nggak tahu, kalo kelas 6 dia bakal pinda lagi ke Jogja. Liburan dua minggu pun aku nggak pernah ketemu sama dia. Emang nggak tahu kalo dia bakal pindah. Kalo tahu, aku bakal setiap hari ke rumah tantenya.
Hari itu, pertama kali masuk kelas 6. Aku udah nyari tempat duduk buat aku sama Tika, aku duduk sendiri nunggu Tika. Sampai pukul 8, Tika nggak juga datang. Aku berdiri dan melihat ke luar jendela. Dan kutemukan sosok itu, memakai pakaian bebas. Tika. Dia berjalan berdampingan dengan neneknya. Aku hanya bisa menatapnya, dia tak melihat ke arahku. Aku terus menatapnya sampai dia masuk ke ruang kepala sekolah.
Aku hanya bisa diam, ada apa ini? Tapi aku nggak bisa berbuat apa-apa. Hanya menatap papan tulis yang berisi tulisan-tulisan guru kelas 6.
Dan aku baru sadar, bahwa hari itu adalah terakhir kalinya aku bisa melihat dia. Setelah itu,tahu kabar dia saja tidak.
Sampai sekarang ini, aku kelas 10, kenangan tentang Tika masih melekat di hatiku. Apa iya aku bisa ketemu dia lagi? Kalau pun nggak bisa di dunia ini, aku pengen banget ketemu dia di surga.. Semoga..
Aku pernah buat cerita tentang Tika. Nggak sama plek dengan kisah yang aku jalani. Yang sama hanya : sama-sama kehilangan sahabat dan amat sangat merindukannya. Tapi ending nya emang aku buat sad ending. Nggak bermaksud apa-apa. Nggak bermaksud buat mendoakan. Cuma... Aku nggak bakal membuat cerita yang happy ending dan aku terlalu berharap akan hal itu.
Aku bakal post - in ke blog ini. Nggak bermaksud buat pamer.. cuma, mau ngungkapin sesuatu yang dinamakan kerinduan.(ry)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar