“Rin..” panggil Arif sambil melambaikan tangannya ke arahku, menyuruhku mendekat kepadanya.
“Ada apa?”
“Kamu inget sekarang hari apa?”
“Hari Pahlawan..”
Arif menepuk dahinya pelan, “Sini aku bisiki…”
“Oh ya, aku juga tahu..”
“Stt, orangnya ada di sini!”
“Oh, oke… aku bisa ikut rencana kalian..” aku mendekati kursiku dan meletakkan tas di atasnya. Hari ini tanggal 10 November, Hari Pahlawan. Tapi ada yang lebih istimewa selain Hari Pahlawan, teman sekelasku, Rasyid berulang tahun yang ke 17. Dan kami sekelas sepakat untuk ngerjain dia habis-habisan.
Ding ding ding… Jam pertama akan dimulai dalam lima menit lagi..
Kami mengambil topi upacara dan menuju ke lapangan, untuk memperingati Hari Pahlawan. Semua murid berbondong-bondong menuju lapangan bawah, melewati jembatan cinta. Nama jembatan yang memisahkan sekolah area atas dan bawah.
Hakam, yang tidak pernah mengikuti upacara, karena sakit kaki, mendapat bagian untuk mengambil kunci sepeda motor milik Rasyid yang selalu dia letakkan di dalam tas.
Setelah upacara selesai, semua kembali ke kelas masing-masing. Semua ngobrol seru, kecuali Rasyid. Dari tadi Rasyid memang sengaja didiamkan. Sampai di kelasku, X-1, Rasyid langsung masuk kelas dan duduk di kursinya, dia memasukkan topi ke dalam tasnya. Dan terlihat merogoh-rogoh sesuatu.
Kami yang sudah masuk ke dalam kelas, pura-pura tidak peduli dan sibuk dengan aktivitas masing-masing. Muka Rasyid terlihat pucat pasi, dia berjalan mengelilingi setiap meja, melongokkan kepalanya ke dalam laci. Indi, teman sebangku Rasyid pura-pura bertanya kepada Rasyid, “Ada apa, Syid?”
“Kunci motorku nggak ada di tas! Siaal!” makinya sambil menggaruk-garuk rambutnya.
“Kok bisa?” tanya Robby, yang duduk di belakang Rasyid. Robby-lah yang sekarang membawa kunci motor Rasyid.
“Nggak tahu, tadi aku yakin banget udah masukin ke dalam tas. Tapi nggak ada. Ada yang tahu, woy!” teriak Rasyid ke seluruh siswa. Tapi mereka pura-pura tak peduli, hanya memandang ke arah Rasyid, menggeleng dan melanjutkan aktivitas lagi.
“Emang kamu taruh mana, Syid?”
“Kalo aku tahu, nggak mungkin kunciku hilang!” bentak Rasyid, dia terlihat emosi. Aku yang duduk di seberang meja Robby hanya tertawa batin melihat adegan itu.
Bu Titis, guru geografi masuk ke kelasku, semua diam dan duduk di kursi masing-masing. Rasyid menahan emosinya, duduk dengan otot-otot yang menegang.
Istirahat pertama, Robby, Indi, Arif, Gita dan yang lainnya asyik menonton film di komputer kelas. Aku ikut nimbrung, aku berdiri di sebelah Rasyid yang ikut nonton dengan wajah yang sulit diprediksi.
“Belum ketemu, Syid?” Rasyid hanya mengangguk lemah.
“Kamu kan punya kunci cadangan, pulang dulu aja naik angkot trus ke sini bawa kunci cadangan. Kan motornya bisa kamu bawa pulang…”
“Enak aja, rumahku jauh, Riin…”
“Oh, aku lupa..”
###
Ding ding ding… Pelajaran telah berakhir, sampai jumpa di hari berikutnya…
Pak Rifa’i guru matematika mengucapkan salam dan meninggalkan kelas X-1. Kelas mendadak menjadi riuh, semua berteriak, ”Ayoo Rasyid di siram air.. Cepat ambil ember!!” semua bergerak cepat, pergi ke WC ambil seember air. Anak laki-laki menyeret Rasyid keluar kelas.
Rasyid yang mempunyai badan kecil dengan mudah ditarik keluar kelas. Di depan koridor kelas, air langsung diguyurkan ke tubuh Rasyid. Rasyid menerimanya dengan pasrah. Aku yang menyaksikan kejadian itu hanya tertawa geli, mengeluarkan kamera dan menfotonya.
Anak-anak kelas lain yang menyaksikan ikut geli melihat kejadian itu. Koridor kelasku menjadi seperti habis banjir. Tak disangka, Pak Bambang, Wakil Kepala Sekolah menyaksikan kejadian itu. Beliau langsung menghampiri kami.
“Ada apa ini?” tanya Pak Bambang dengan nada marah.
Kami sangat terkejut, tak ada yang berani menjawab. Tiba-tiba anak X-2 ada yang menjawab, “Ada yang ulang tahun, Pak... Siram-siraman air.”
“Semua anak X-1 masuk ke dalam kelas, cepat!”
Semua menurut, masuk ke dalam kelas dan duduk dengan patuh.
“Kalian tahu, ini kejadian yang sangat tidak baik. Orang yang ulang tahun harusnya diberi selamat, syukur-syukur diberi hadiah. Bukan malah disiram air. Lihat dia, jadi basah kuyup, kedinginan. Siapa yang melakukan hal semacam ini?”
“Semua, Pak...” jawab Bagas. Aku manyun, dongkol sekali, aku kan nggak nglakuin apa-apa. Tapi aku hanya diam, harus punya jiwa kursa...
“Benar semua?”
“Iya, Pak.”
“Baiklah… Sekarang, pel koridor kelas kalian sampai benar-benar kering. Setelah itu, temui saya di lapangan bawah. Paham?”
“Paham, Pak…” jawab kami lirih.
Pak Bambang keluar kelas, kami masih diam di tempat. Ada yang menenggelamkan wajahnya di meja, menangis. Aku hanya bertopang dagu sambil mengatur nafas agar normal kembali. Menahan air mata yang akan menetes.
“Udah, ayo sekarang kita pel koridor. Lalu kita ke lapangan. Ini udah jadi konsekuensi kita…” kata Bagas bijaksana. Dia mengambil kertas-kertas bekas di loker dan mengepel, kami mengikutinya.
Setelah koridor kering, kami berbondong-bondong menuju lapangan upacara. Sampai lapangan, Pak Bambang sudah berada di sana. Setelah semua anak X-1 berkumpul, Pak Bambang memberi ceramah.
“Saya tidak akan menghukum kalian secara fisik. Yang perlu saya tekankan, perbuatan semacam itu sangat tidak baik. Dan saya minta kalian tidak mengulangi perbuatan itu lagi. Saya sudah lapor ke Bu Rita, wali kelas kalian.”
Kami semua menjadi lemas, bagaimana nasib kita besok? Bisa-bisa waktu dua jam pelajaran hanya untuk caramah…
“Kalau sampai ada kejadian seperti ini lagi, saya akan menghukum kalian. Putar lapangan ini 10 kali. Baiklah sekian dari saya, kalian bisa kembali ke kelas!” Pak Bambang meninggalkan kami.
Kami berjalan beriringan menuju kelas X-1.
“Kejadian ini harus kita kenang...” kata Bagas lirih.
“Hari ini tak sekedar hari Pahlawan, melainkan hari kenangan…” kata Gita.
Aku tersenyum terenyuh, walaupun X-1 di mata guru dan anak lain mungkin kelas yang rame dan onar, tapi menurutku, kelas X-1 adalah kelas yang paling bisa berbagi. Suka duka ini tak bisa aku lupakan, semoga satu tahun bersama X-1 menjadi satu tahun yang indah. 10 November, akan aku kenang.(ry)
*tidak sepenuhnya benar, dibumbui biar lebih sedaaap :p
Tidak ada komentar:
Posting Komentar