Uuh… hari ini aku sebel banget, hari pertama masuk kelas tujuh (sesudah melaksanakan MOS) jadi kacau. Aku udah bela-belain berangkat pukul enam pas, untuk cari tempat duduk di depan walau emang dapat. Ini kebiasaanku, duduk harus di depan sendiri, seperti di SD dulu. Tapi gara-gara wali kelasku, Pak Anton, aku mendapat tempat duduk di barisan paling belakang, karena badanku agak besar. Untung saja teman sebangkuku perempuan, karena temanku yang lain duduknya diselang-seling laki-laki dan perempuan.
Aku melirik teman sebangkuku, yang sedang terdiam di kursinya. Dari seragam SD yang masih ia kenakan, sama seperti aku, tertera nama lengkapnya, Lena Puspita. Aku menggeser kursiku mendekati kursi Lena.
“Haai Lena Puspita, nama panggilan kamu siapa?” tanyaku pelan
“Lena boleh, Pita juga boleh!” katanya bersemangat, tanda ingin berteman dengan aku. “Kalau gitu, aku panggil Lena aja yaa?” Lena mengangguk cepat, “Teman-teman SD-ku di Semarang juga manggil aku Lena,” katanya mengubah posisi tubuhnya. “Haaa, kamu SD-nya di Semarang! Lalu kenapa sekolah di Temanggung, bukan di Semarang?” tanyaku tak percaya…
“Iya, pengin aja! Soalnya kakakku dulu sekolah di sini, tapi sekarang sudah kuliah di Semarang. Ibuku juga asli orang sini, tapi ayahku orang Semarang, jadi aku SD-nya di Semarang deeh,”
“Terus, kamu di Temanggung tinggal dimana?” tanyaku penasaran.
“Nge-kost,”
“Sama siapa?”
“Sendirian dong…”
“Haaah…” aku membuka mulut lebar-lebar, tapi Lena malah tertawa. Aku bingung, “Ada apa, kok tertawa,”
“Aku bohongin aja, percaya. Di sini aku tinggal sama tanteku,” katanya tertawa puas. Huuh… Lena, Lena…
“Ibu dan Ayah kamu tidak ikut ke Temanggung?”
“Ibuku bekerja di bank, jadi nggak bisa ikut sama aku sedangkan ayahku bekerja menjadi guru olah raga, jadi juga nggak bisa ke sini. Lagian di Semarang ibu dan ayah menjaga nenekku yang sakit,” penjelasan Lena sangat jelas di telingaku, aku hanya mengangguk.
“Selamat pagi anak-anak,” seorang guru cantik masuk ke kelasku, VII D.
“Selamat pagi, Bu,”
“Perkenalkan nama saya ibu Wati, mengajar pelajaran matematika, karena kalian belum punya buku paket, kalian catat rumus-rumus ini dulu,”
Semua serempak mengeluarkan buku matematika, dan pelajaran ketiga dimulai setelah pelajaran Matematika yang ternyata mengasyikkan.
Saat istirahat pertama, aku dan Lena jajan di warung depan kelas. Lalu kami duduk di koridor kelas sambil makan jajan.
“Nama kamu siapa sih?” tanya Lena padaku
“Oh iya aku lupa ngasih tahu, namaku Vinda,” aku baru ingat kalau seragam yang ku pakai tidak ada identitas nama, hanya bet SD di saku.
“Nem kamu masuk di sini berapa?” tanyaku sambil memasukkan roti ke dalam mulutku.
“27,45, tapi karena luar daerah Temanggung, nemku Cuma diakui 26,45 lalu ditambah piagam juara dua lomba renang se-Provinsi, jumlahnya kurang tahu, kalau kamu berapa?” tanya Lena.
“Nemku 28,00 sudah ditambah piagam olimpiade matematika juara dua se-kabupaten,” Lena mangut-mangut, “Pantes, saat pelajaran matematika kamu nggak kesulitan, padahal aku pusing banget sama angka-angka matematika. Pasti ujian matematika kamu dapat nilai sepuluh?”
“Ah cuma juara kabupaten, tapi kamu hebat, bisa renang, padahal aku nggak suka berenang lhoo, bakat renang kamu pasti dari sang ayah tuh,”
Aku dan Lena sangat berbeda, tapi dari perbedaan ini semoga aku dan Lena bisa bersatu, saling menolong.
Hari berganti hari, minggu berganti minggu, hingga bulan berganti bulan. Hari ini hari terakhir aku dan teman-teman lain melaksanakan ujian akhir semester. Dan aku akan menyandang gelar baru, sebagai murid kelas delapan. Cihuuuy….dan aku berharap aku bisa satu kelas lagi dengan Lena…
Hari-hari liburan aku lewati dengan tidak sabar, aku sangat ingin kembali ke sekolah. Bertemu teman-teman terutama Lenaa…karena selama setahun itu aku sudah menganggap Lena sebagai sahabatku, tapi aku tidak tahu Lena menganggapku sahabatnya atau tidak.
Akhirnya hari yang aku tunggu datang juga, aku sudah siap dengan seragam putih biruku. Menenteng tas baru, memakai sepatu baru, dan gelar baru. Aku merasakan upacara hari Senin waktu itu sangat menyenangkan. Tak seperti biasanya, aku selalu mengeluh jika harus mengikuti upacara.
Dari awal hingga akhir upacara, aku tidak melihat wajah Lena. Mungkin dia terlambat, kebiasaan buruknya itu memang tidak dapat dihilangkan. Setelah upacara dibubarkan, aku segera mengambil tas dan berlari menuju papan pengumuman. Aku membaca deretan nama-nama anak kelas delapan. Aku mencari nama Vinda Agustina dan Lena Puspita. Aku terdaftar sebagai siswa kelas VIII B, sedangkan nama Lena Puspita belum aku temukan. Aku mengecek kembali nama anak-anak yang naik ke kelas delapan. Nama Lena tetap tidak ada, padahal anak-anak kelas tujuh naik semua. Aku jadi cemas, jangan-jangan.(ry)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar